Jumat

Pertemuan terakhir

  Sekejap aku merebahkan tubuhku pada sebuah kursi di ruang tengah, hatiku sungguh gusar akan tingkah yang di buatnya, secepat mungkin ku usap air mata yang hampir saja menetes jatuh ke gaun malam. Aku kecewa pada dirinya, mengapa ia tega melakukan ini padaku padahal saat itu ia sendiri yang menelponku untuk menemaninya ke pesta sahabatnya,, tadinya aku begitu senang, malahan terlalu senang tuk di ungkap. Saat kakiku mulai beranjak menjauyh dari sedanku menuju ke dalam ruangan yang cukup mewah itu, ada risau dan gelisah yang terlintas ketika sang rembulan malam memancarkan cahayanya pada sepasang kekasih yang tengah beradu mesra sehingga siapa saja akan terfokus untuk melihatnya.
Sungguh tragis, Indra ternyata tega melakukan itu semua padaku, aku hendak berlari meninggalkan ruangan itu tapi tiba tiba tanganku ditarik oleh seseorang, genggamannya begitu kuat. “Aku berharap itu dia”bisikku, perlahan aku menoleh ke belakang. Wi, maafkan aku, bisik Indra persis di telinga kananku.. Nafasku terengah-engah bahkan hendak terhenti tapi aku harus terus memompa nafasku tuk tetap bias berkata “Maaf apa lagi??’’ semuanya sudah jelas, kataku menantang. “Maaf karena kita harus mengakhiri hubungan ini karena aku lebih mencintai dia” ucap indra meyakinkan hubungannya pada sesosok wanita cantik berambut lurus dan berkulit putih itu. Ku fikir ia akan membujukku dan mengatakan kalau apa yang ku saksikan itu jauh beda dari apa yang sebenarnya terjadi, tapi semuanya salah total,,Tiba-tiba dadaku sesak, rasanya angin malam ingin mandobrakku jatuh ke permukaan lantai tapi dengan gesitnya aku berlari meninggalkan ruangan itu termasuk sisa-sisa pembicaraan menyakitkan tadi. Mobil sedanku melaju dengan kencang, membawaku pergi melintasi alun-alun kota, Indra tak lagi mengejarku seperti apa yang ku harapkan. rasanya semuanya gelap, semuanya hening bahkan untuk lampu yang paling terang di tengah kota terlalu gelap untuk mataku yang perih terbilas air mata.
Matahari mulai menyengat tubuhku, handphone genggamku berdering entah siapa, nomornya terlalu asing untuk terdeteksi di handphone merah pemberian Indra saat ulang tahunku yang ke 17 lalu, “Halo” sapaku, ‘Ini Winda kan?” balas seorang wanita,. nada lembutnya mengingatkanku pada seseorang tapi ku acuhkan, tak ingin pagi buta yang berat itu mengacaukan fikiranku untuk mengingatnya..”Yah, ini memang Winda, ada apa yah?” jawabku. “Win, bisa nggak kerumah Indra sekarang??”. Tapi ini……. Belum sempat aku melanjutkannya telpon terputus,, aku hanya sedih jika ada yang menyebut nama indra.. ntah mengapa hatiku gelisah tak karuan hingga jari kelingkingku tak sengaja menjatuhkan fotoku bersama Indra saat liburan di Bali sepekan lalu, saat itu ia terus saja memaksaku untuk ikut dengannya dengan isin orang tuaku.. awalnya aku menolak, namun ia terus memaksa, padahal biasanya ia tak pernah sengotot itu jika menginginkan sesuatu..
Ibu hanya kebingungan melihat tingkahku yang aneh setelah menerima telpon tadi,, “kamu kenapa sih Win, mondar mandir nggak jelas bukannya beresin pecahan kaca bingkai foto yang jatuh” tegur Ibu.. “aku teringat Indra ma, perasaanku nggak enak gini nih”jawabku panik.. “yah, udah, coba ke rumah  Indra saja Win”.. “nggak ah, aku benci Indra ma, aku nggak mau kenal dia lagi”.. belum sempat ibu berbicara, telpon rumah berdering tapi malah ibu yang mengangkatnya,, ntah apa yang di bicarakan, aku nggak peduli.. setelah telpon di tutup, ibu manatapku dengan wajah serius, siapa saja yang melihatnya pasti akan prihatin.. “Win, ke rumah Indra sekarang” perintah ibu.. “tapi,..” ibu menggelengkan kepalanya menandakan kalau aku tak boleh mengelak perintah ibu lagi..
Penasaran pun membawaku ke rumah Indra, ketika aku mulai melangkahkan kakiku turun dari taksi, pandanganku beralih pada rangkaian bunga tertata rapi di depan rumah Indra dan ku perhatikan di sekitarnya, ads orang-orang yang sudah tak asing dan sering ku temui setiap Indra mengajakku berkumpul dengan keluarganya.Aku bergegas masuk ke rumah Indra,  dan seketika ku lihat jenasah di tengah kerumunan orang banyak. Di ujung sana ku lihat Ibu Indra yang tengah histeris, di sampingya ada Lisa, adik Indra yang sering bermain bersamaku, berlari dan saling mengejar bersama Indra.. Di pojok tempat aku dan Indra sering bertengkar riang ada Ayah Indra yang tak tau apa yang di buatnya. Mataku bolak balik mencari sosok Indra tapi tak kunjung ku temukan, nafasku terengah-engah, dadaku sesak, tangisku meledak saat ku lihat jenasah itu adalah Indra,aku tak bisa menahan banjir tiba-tiba di mataku, Indra telah pergi meninggalkanku..
            Sesosok wanita muda manghampiriku, wajah cantiknya sudah tak asing lagi, wanita itu yang pernah ku temui saat ulang tahun Rian, saat itu dia bersama Indra. ‘Win. Aku sepupunya Indra yang baru datang dari Bali, kamu harus sabar dan tabah yah, sebenarnya Indra dari dulu menderita kanker otak tapi ia selalu menutup-nutupinya darimu, ia nggak ingin kamu khawatir, Maaf juga soal kejadian semalam. Fikirku hendak melayang pada kejadian semalam, saat aku berlari membawa tangisku, Indra mencegat dan memegang jemariku, sungguh ku merasakan sentuhan tangan Indra yang begitu dingin dan pucat.
“oh ya, Ini titipan surat yang sempat di tulis Indra untukmu sebelum ia pergi” menyodorkannya padaku dan meninggalkanku. Ku buka lembaran surat itu..
Dear my love…
Maafin aku karena umurku terbatas tuk bisa berada di sampingmu
Tapi tetap cinta ini kan terus bersamamu
Aku ingin kau bisa mengantar kematianku dengan senyummu yang manis
Seprti dulu saat kau selalu tersenyum manis untukku
Aku nggak bias kasih tau kamu sebelumnya tentang penyakitku
Karena aku nggak mau lemah dan membuatmu khawatir
Aku mengenalmu sebagai wanita terindah
Aku harap kau bisa mengikhlaskan kepergianku dengan kebahagiaanmu yang kekal
Aku akan selamanya mencintaimu
Karena kau dan bahagiamu adalah kebahagiaanku
In, aku akan selamanya mencintaimu, tapi ini terlalu cepat untuk bias memilikimu, meskipun jasadmu tak dapat lagi menjaga dan memanjakanku, hatimu kan tetap ada menemani setiap langkahku karena ku adalah bagian dari hidupku..
Selamat jalan Indra, selamat jalan semoga kamu mendapat tempat terindah di sisinya, Selamat jalan.………….
           

Created by:
Dian Adriani Saputri